Selesainya Fase Trimester 4

pexels-fox-1767984

Setelah menjadi ibu, Aku rasa proses melahirkan adalah awal dari segalanya. Tentunya fase kehamilan yang Aku alami trimester 1 hingga 3 memiliki tantangan dan cobaan tersendiri. Tetapi di trimester 4 ini, ketika si bayi sudah dilahirkan ke dunia memberikan tantangan yang sejujurnya benar-benar diluar dugaan.

Trimester 4, adalah sebuah fase dimana periode tiga bulan setelah bayi dilahirkan ke dunia. Pada periode ini, bayi beradaptasi dengan keadaan di luar rahim. Yang mana, bagi bayi rahim merupakan tempat yang gelap, hangat, sunyi dan nyaman.

Di dalam rahim, bayi tidak perlu menangis ketika lapar, karena makanannya langsung disalurkan lewat tali pusar. Selain itu saat di dalam rahim bayi pun tidak perlu merasakan ketidaknyamanan ketika popoknya basah.

Dari transisi hidup di dalam rahim ke dunia inilah yang membuat bayi sering rewel dan mudah menangis. Ya mungkin saja ia rindu dengan “kampung halamannya”.

Sambil menunggu kelahiran, Aku banyak membaca terutama buku-buku parenting. Tetapi selama fase trimester 4 ini nyatanya banyak hal yang tidak tertulis di dalam buku.

Ya, seorang bayi tidak dihadirkan dengan manual book. Seorang bayi, sesosok manusia mungil yang memiliki sifat dan karakter yang unik dan sungguh random. Di perlukan insting dari seorang ibu yang lambat laun semakin tajam terasah dan tentunya hal inilah yang masih aku pelajari setiap harinya.

Seringkali Aku merasa clueless ketika Sidu menangis terus menerus meski Aku sudah mencoba berbagai cara dari solusi penyebab kemungkinan bayi menangis.

Contohnya mulai dari saat sidu ganti popok, mandi & ganti baju yang selalu menangis, ketika proses dbf berlangsung Ia bisa tiba-tiba menangis meski sudah disendawakan, proses ngelonin sidu sebelum tidur yang lama & penuh drama hingga rewel berhari-hari akibat efek setelah imunisasi.

Selain Sidu, si anak bayi yang sedang beradaptasi di fase trimester 4 ini, Aku sendiri pun harus beradaptasi.

Karena tinggal bertiga yaitu aku-sidu-suami, tentunya Aku harus bisa membagi waktu antara mengurus anak, pekerjaan domestik, mengurus suami dan pekerjaan freelance baik itu dari bidang teknik sipil ataupun konten blog.

Satu hal yang selalu Aku tanamkan dalam diri, Aku ga mau energi yang aku punya habis duluan dengan urusan lain sehingga ketika menghadapi sidu yang misalnya rewel atau ingin terus bermain, aku masih ada energi yang tersimpan.

Tau sendiri kan, kalo orang kelelahan itu emosinya cepat naik, dan aku gamau sidu menerima emosi itu. Karena dia ga salah apa-apa dan ga pantas juga menerima emosi akibat seorang ibu yang kelelahan duluan.

Saat fase trimester 4 telah usai, sidu pun sekarang menangis hanya ketika bosan, ingin diajak main atau haus. Ia pun jadi tidak serewel itu ketika menonton aku memasak, Ia jauh lebih sabar dibanding sebelumnya.

Lalu Akupun akhirnya udah nemu ritme yang pas yang membuatku tetap “waras”.

Tapi satu hal yang kadang terjadi dan kadang tidak yaitu proses ngelonin sidu tidur. Karena jujur, sampai sekarang masih ada rasa deg degan setiap malamnya, seperti “semoga aja sidu ga susah ditidurinnya”.

Dari semua itu, yang Aku sangat syukuri adalah selama trimester 4 ini Alhamdulillah Aku gapernah ngerasain begadang. Meskipun proses ngelonin tidurnya lama dan drama, tapi Sidu memiliki jam tidur malam yang tetap dan dengan durasi panjang. Paling Ia hanya terbangun ketika haus saja.

Hal yang Aku syukuri selanjutnya adalah proses dbf dengan sidu yang lancar. Mulai dari IMD ketika dia dilahirkan, perlekatan hingga asi yang selalu cukup untuk ia minum.

Saat Trimester 4 telah usai, Aku senang banyak hal yang Aku dan sidu lewati. Aku makin mengenal dan terus belajar untuk memahami Sidu, seorang bayi yang Aku rawat sendiri mulai dari masih ada tali pusar yang menempel hingga hari ini.

Yang sebelumnya Aku gabisa apa-apa tentang merawat bayi, hingga aku belajar banyak demi memberikan yang terbaik yang Aku bisa demi Sidu.

Setiap hari adalah awal yang baru dan perjalananku bersama Sidu masih panjang kedepannya. Banyak sekali kekhwatiran yang terus berputar di kepala, “Aku dan sidu pasti bisa” itulah afirmasi yang selalu aku tanamkan, setidaknya kalimat tersebut yang membuatku lebih tenang.

Sidu, umi sayang sidu. Kita sama-sama yuk terus belajar 😊❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s